Pulau Pinang — Konvensi Falak Negeri Pulau Pinang 2026 akan digelar pada 14–15 Oktober 2026 di Dewan Utama Pelajar (DUP) dan Lapangan Kawad, Universiti Sains Malaysia (USM). Mengusung tema “Falak dalam Kehidupan”, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan ilmu falak secara lebih luas sekaligus menunjukkan relevansinya dalam kehidupan masyarakat. Konvensi tersebut dirancang tidak hanya sebagai forum ilmiah, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan interaksi masyarakat dengan astronomi dan ilmu falak. Berbagai kegiatan telah disiapkan untuk memberikan pengalaman yang lebih dekat dan menarik, khususnya bagi generasi muda. Sejumlah agenda yang ditawarkan antara lain Seminar Falak, Perhimpunan Teleskop Nasional, Planetarium Bergerak, Perlombaan Roket Air, Pameran Agensi, dan Bengkel Astronomi. Selain itu, peserta juga dapat mengikuti Perlombaan Rancang Bangun Rover serta Perlombaan Rancang Bangun Logo Pusat Falak Sheikh Tahir. Ragam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa ilmu falak memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui pendekatan pendidikan, sains, teknologi, dan kreativitas. Falak tidak semata-mata berkaitan dengan pengamatan benda-benda langit, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan berbagai kebutuhan kehidupan manusia, termasuk penentuan waktu, kalender, arah kiblat, dan persoalan keagamaan lainnya. Penyelenggaraan konvensi di Universiti Sains Malaysia juga menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga pemerintah, institusi falak, komunitas astronomi, dan masyarakat. Kehadiran berbagai mitra strategis diharapkan dapat memperluas jejaring pengembangan ilmu falak di Malaysia. Melalui kegiatan yang bersifat ilmiah, edukatif, dan rekreatif, Konvensi Falak Negeri Pulau Pinang 2026 diharapkan mampu meningkatkan literasi astronomi masyarakat sekaligus menumbuhkan minat generasi muda terhadap ilmu falak dan sains. Tema “Falak dalam Kehidupan” menjadi pesan penting bahwa ilmu tentang keteraturan benda-benda langit bukanlah pengetahuan yang berada jauh dari kehidupan manusia. Sebaliknya, ilmu falak memiliki kontribusi nyata dalam memahami alam semesta sekaligus menjawab berbagai kebutuhan manusia. Konvensi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat tradisi keilmuan falak, memperluas pemanfaatan astronomi, dan mendorong lahirnya generasi yang memiliki ketertarikan terhadap sains, teknologi, dan pengembangan ilmu falak.
