ABU DHABI. Pusat Astronomi Internasional (International Astronomical Center/IAC) merilis data visibilitas hilal untuk penentuan awal Muharam 1448 H yang akan dilakukan pada Senin, 15 Juni 2026. Berdasarkan peta dan data yang dipublikasikan, peluang terlihatnya hilal di kawasan Timur Tengah relatif lebih baik dibandingkan wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, pengamatan hilal dilakukan setelah Matahari terbenam pada 15 Juni 2026. Data untuk Jakarta menunjukkan bahwa ijtimak terjadi pada pukul 08.35 WIB. Saat Matahari terbenam pukul 17.46 WIB, usia Bulan baru sekitar 9 jam 12 menit. Hilal hanya berada pada ketinggian 2,0 derajat dengan elongasi 5,9 derajat dan memiliki waktu tinggal (mukts) sekitar 14 menit setelah Matahari terbenam. Parameter tersebut menunjukkan bahwa posisi hilal masih sangat rendah dan dekat dengan cahaya senja. Oleh karena itu, menurut kriteria Odeh yang digunakan oleh IAC, hilal di Indonesia dinilai belum mungkin dirukyat, bahkan dengan bantuan teleskop. Kondisi ini berbeda dengan sejumlah negara di Timur Tengah yang memiliki usia Bulan lebih tua dan posisi hilal lebih tinggi saat Matahari terbenam. Di Arab Saudi, khususnya Makkah, usia Bulan mencapai sekitar 14 jam 36 menit dengan ketinggian hilal 6,5 derajat dan elongasi 8,0 derajat. Hilal diperkirakan dapat diamati menggunakan teleskop. Kondisi serupa juga terjadi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, yang memiliki ketinggian hilal 6,1 derajat dan elongasi 7,6 derajat. Peluang rukyat semakin membaik di Yordania, Mesir, dan Maroko. Di Amman, hilal memiliki ketinggian 6,4 derajat dengan waktu tinggal 48 menit. Sementara itu, di Kairo ketinggian hilal mencapai 7,6 derajat, dan di Rabat, Maroko, mencapai 8,8 derajat dengan elongasi 9,9 derajat. Pada wilayah-wilayah tersebut, hilal diperkirakan dapat terlihat menggunakan teleskop dan berpotensi teramati dengan mata telanjang oleh pengamat berpengalaman dalam kondisi cuaca yang baik. Perbedaan kondisi ini menunjukkan pengaruh letak geografis terhadap visibilitas hilal. Semakin ke barat, usia Bulan bertambah tua dan posisi hilal semakin tinggi saat Matahari terbenam. Karena itu, peluang keberhasilan rukyat di kawasan Timur Tengah bagian barat dan Afrika Utara jauh lebih besar dibandingkan Indonesia. Apabila laporan rukyat berhasil diterima dari negara-negara Timur Tengah atau Afrika Utara, maka sebagian negara Islam berpotensi menetapkan 1 Muharam 1448 H pada Selasa, 16 Juni 2026. Sementara itu, Kalender Hijriah yang berkembang di Indonesia (Kalender Hijriah Indonesia, Almanak Islam 1448, dan Kalender Hijriah Global Tunggal) menetapkan awal Muharam 1448 H jatuh pada hari Selasa 16 Juni 2026 H, sedangkan Singapore, Malaysia, dan Brunei Darussalam awal Muharam 1448 H jatuh pada hari Rabu 17 Juni 2026.
