Galeri Astronomi Islam

Seminar Nasional Ilmu Falak 2026 : Masa Depan Neo-MABIMS di Era Artificial Intelligence

SEMARANG — Perkembangan teknologi dan hadirnya Artificial Intelligence (AI) terus membawa perubahan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kajian astronomi Islam dan penentuan awal bulan kamariah. Menjawab dinamika tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang akan menggelar Seminar Nasional Ilmu Falak 2026 dengan tema “Kriteria Visibilitas Hilal Neo-MABIMS: Antara Peluang dan Tantangan di Era Artificial Intelligence.” Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 19 Mei 2026, pukul 07.30–13.30 WIB di Ruang Teatrikal Prof. Qadri Azizy, UIN Walisongo Semarang. Seminar tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya alias gratis, meskipun peserta tetap dibatasi sesuai kapasitas yang tersedia.

Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar ilmu falak yang memiliki pengalaman luas dalam bidang hisab-rukyat dan pengembangan astronomi Islam di Indonesia. Kehadiran para narasumber diharapkan mampu memberikan pandangan ilmiah mengenai implementasi kriteria visibilitas hilal Neo-MABIMS, sekaligus mengulas pengaruh kecerdasan buatan terhadap perkembangan metode penentuan awal bulan Hijriah di masa mendatang. Seminar ini menjadi ruang diskusi intelektual bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum untuk memahami tantangan baru dalam dunia falak modern. Selain itu, forum ini juga diharapkan mampu mempertemukan tradisi keilmuan falak klasik dengan inovasi teknologi digital yang berkembang pesat. Tema mengenai Neo-MABIMS dan AI dinilai sangat relevan karena perkembangan teknologi observasi, pengolahan data astronomi, hingga prediksi visibilitas hilal kini semakin terbantu dengan sistem kecerdasan buatan. Kondisi tersebut membuka peluang baru dalam pengembangan kajian falak yang lebih akurat, cepat, dan adaptif terhadap kebutuhan zaman. Panitia mengajak masyarakat, khususnya pemerhati astronomi Islam dan mahasiswa, untuk segera mendaftarkan diri dan menjadi bagian dari forum ilmiah tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *